Sejarah
Telepon
Sebuah
alat yang mampu menghubungkan kita dengan orang-orang yang berada jauh disuatu
tempat, tanpa perlu menghabiskan banyak biaya. Sebuah alat yang sangat
bermanfaat dan hampir setiap orang di dunia ini menggunakannya. Pasti di sudut rumah
anda, atau bahkan selalu ada disamping anda, alat ini begitu mampu membuat kita
merasa dekat dengan siapapun. Benar sekali, alat ini adalah telepon. Namun,
pernahkah anda berpikir bagaimana sejarah telepon itu sendiri? Orang jenius
seperti apa yang mampu menciptakan sekaligus mengembangkan alat kecil sejuta
makna ini? Mungkin kita perlu malu jika tidak tahu sejarah tentang telepon ini.
Setiap hari dan setiap waktu kita menggunakannya, tetapi tidak tahu sejarah dan
penciptanya. Pada Buletin edisi kali ini, kami akan mengungkap sejarah telepon,
agar kita mampu untuk lebih menghargai dan memanfaatkan telepon dengan
bijaksana dalam kehidupan kita sehari-hari.
Kisah
telepon menjadi alat komunikasi baik untuk pribadi maupun publik, berawal pada
bulan Maret 1876. Ketika seorang penemu dari Amerika bernama Alexander Graham
Bell yang lahir di Skotlandia, 3 Maret 1847, mematenkan telepon
temuannya. Walaupun ketika tahun 1837, ada orang Amerika bernama C.G. Page dan
Philip Reiss seorang guru di Frankfrut, menyatakan
bahwa ia telah berhasil mentransmisikan ‘ucapan yang dimengerti’. Namun,
menurut Bell pernyataan tersebut terlalu ambisius. Dengan alasan, “jika
pernyataan itu diterima, hal itu pastilah karena tidak sengaja untuk jangka
waktu sebentar”. Hanya Bell yang dapat mengklaim diri dengan benar, bahwa ia
telah menjadikan telepon itu dapat bekerja. Ia memperlihatkan hal itu pada
Centennial Exhibition (Pameran Seratus Tahun) di Philadelphia tahun 1876.
Percakapan telepon yang pertama dilakukan oleh Bell, ialah bersama rekannya
yang bernama Thomas Watson, yang berbunyi “Mr. Watson come here, I want to see
you”.
Seorang
Guru Besar Tehnik di Universitas Melbourne, menyatakan dalam sebuah pidatonya
pada tahun 1897 bahwa, “jika ramalan yang menyatakan tentang pencapaiannya yang
akan datang telah dilakukan terhadap orang yang paling cerdas tahun 1837…dari
semua penemuan modern, maka teleponlah yang telah menimbulkan rasa keraguan
paling besar”. Namun, seorang ilmuwan Skotlandia bernama Sir William yang kemudian menjadi Lord Kelvin
(1824-1913), setelah mencoba telepon Bell di Centennial Exhibition mengatakan
“hal paling mengagumkan yang pernah dilihatnya di Amerika”. Di Australia,
berita tentang penemuan itu sampai ke Sydney dan Melbourne pada tahun yang sama
melalui artikel-artikel dalam The English
Mechanic and World of Science dan di dalam The Scientific American. Orang-orang Australia mulai mencoba
menghasilkan telepon buatan sendiri.
Pada
tahun 1877, Alexander Graham Bell mendirikan sebuah perusahaan bernama The
National Bell Company. Dalam perkembangannya, perusahaan Bell bekerja sama
dengan Western Union. Akibatnya, perusahaan tersebut semakin maju dan
berkembang berkat bantuan seorang tokoh terkemuka sebagai General Managernya,
yaitu Theodore Vail (1845-1920). Perkembangan telepon semakin luas, di
antaranya ialah dibukanya Coleman Street tahun 1879 di London, di Hongaria
tahun 1881 yang di pelopori oleh Theodore Puskas.
Dalam
perkembangannya, telepon diasosiasikan banyak kalangan sebagai hiburan daripada
sebuah alat komunikasi antar individu. Salah satu ramalan pada The Springfield
Republican tahun 1877 menyatakan bahwa dengan perantara telepon “segala macam
music dari seorang biduan dapat disebarluaskan ke seluruh negeri sementara ia
bernyanyi, akhirnya music tersebut semakin populer”.
Virus
telepon yang seketika itu menyerang dunia, menimbulkan kritik-kritik sosial
yang datang dari berbagai kalangan. Tahun 1902, H.G. Wells mengatakan,
“Pedagang mungkin duduk di rumah…dan mengatakan kebohongan-kebohongan yang ia
sendiri tidak berani menuliskannya”. Ini bukanlah satu-satunya garis kritik,
masuknya telepon kerumah-rumah seringkali mendapat serangan, sebagaimana yang
akan dialami oleh televisi beberapa dekade kemudian.
Akan
tetapi, muncul pula tanggapan-tanggapan yang menyanggah gagasan negative pihak
yang tidak suka terhadap dampak negatif telepon. Telepon dianggap sebagai sekutu
pers, sekutu perbankan dan bursa saham. Dibalik berbagai pro kontra yang silih
berganti datang, perkembangan telepon tidak berhenti di tengah jalan.
Di
negara Eropa, perkembangan telepon masih kalah dibanding perkembangannya di
Amerika Serikat. Salah satunya di Inggris, kurang terdapat pemahaman
sebagaimana dikemukakan The Times pada
tahun 1902, bahwa telepon itu “urusan jutaan orang”. Telepon masih digunakan
oleh kaum-kaum elit saja di Inggris. Setahun sebelumnya, Menteri Keuangan
menyatakan bahwa “komunikasi telepon itu tidak diinginkan oleh pemikiran orang
desa”. Di Prancis juga bergejolak, sampai tahun 1922, Paris dikatakan menolak
telepon. Hampir setengah abad setelah diciptakannya, telepon masih tetap saja
menjadi sebuah alat yang hanya khusus disediakan bagi kaum professional.
Jauh berbeda kenyataannya dengan yang terjadi
di Amerika dan Kanada, banyak sekali pengguna telepon di daerah pedesaan.
Dengan telepon, masyarakat disana sangat terbantu aktivitas komunikasinya,
memudahkan keluarga yang terpencar-pencar untuk berkomunikasi, menjadikan
kehidupan di daerah perkebunan tidak begitu terisolasi lagi, serta mengganti
metode-metode penukaran, praktek pengobatan, politik dan kewartawanan. Telepon
juga mewakili kebiasaan sosial yang sedang berubah, tidak kurang para wanita
merasa bahagia karena dapat mengobrol di telepon. Sehingga seolah muncul suatu
“bahasa dan budaya telepon” yang baru.
Amerika
serikat jauh lebih maju daripada semua Negara Eropa dalam distribusi telepon
pada tahun 1900, dengan sebuah telepon untuk setiap 60 orang. Swedia menjadi
Negara pertama di Eropa dengan satu telepon untuk setiap 215 orang. Prancis
mempunyai satu telepon untuk setiap 1.216 orang, dan Rusia satu telepon untuk
6.958 orang. Dorongan Amerika yang dinamis, sempat dimuat dalam sebuah artikel
tahun 1914 dalam McClure’s Magazine, “Telepon Untuk Jutaan Orang”.
Alexander
Graham Bell tutup usia pada tanggal 2 Agustus 1922, sang penemu telepon
tersebut meninggal dunia pada usia 75 tahun akibat penyakit komplikasi yang
disebabkan oleh diabetes. Saat itu, seluruh jaringan telepon di Amerika Utara
sengaja dimatikan untuk sementara waktu. Dengan tujuan untuk menghormati
kepergian orang yang sangat berjasa dalam bidang komunikasi tersebut.
Daftar pustaka
Asa Briggs dan Peter Burke; Sejarah
Sosial Media: Dari Guitenberg sampai Internet; kata pengantar: Jacob Oetama;
penerjemah: A. Rahman Zainuddin; edisi; 1. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia
2006.
http://www.ceritakecil.com/tokoh-ilmuwan-dan-penemu/Alexander-Graham-Bell-4
annehira.com
krisdianto
Tidak ada komentar:
Posting Komentar